2012/06/26

Obyek Wisata Yang Ada Di Marabahan Kabupaten Barito Kuala

Kabupaten Barito Kuala dengan ibukota Marabahan memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.

WISATA ALAM

Pulau Kaget
Pulau Kaget adalah sebuah delta yang terletak di tengah-tengah sungai Barito termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau Kaget terletak dekat muara sungai Barito.Waktu tempuh menuju lokasi yaitu ± 15 menit dengan memakai speed boat dari Kota Banjarmasin, atau ± 1,5 jam dengan menggunakan kelotok.





panorama pulau kaget








Pulau Kaget merupakan habitat bagi Monyet Besar Berhidung Panjang atau oleh penduduk setempat disebut dengan Kera Belanda / Bekantan karena hidungnya panjang, mukanya merah serta perutnya yang gendut. dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kaget juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.







Pulau cagar alam yang terletak di tengah muara Sungai Barito, dekat pantai Laut Jawa, dihuni Bekantan (kera berhidung panjang dan berperut buncit). Satwa ini sebagai maskot Kalimantan Selatan, hidup liar dan pemalu, biasa mudah dilihat/ditemui saat pagi hari atau sore hari.







Begitu klotok (perahu bermesin) yang membawa rombongan mendekati Pulau Kaget, mereka "disambut" puluhan bahkan ratusan penghuni pulau itu dengan bunyi "nguuuk....nguuuuk, nguuuuuuk...," dan satwa langka itu pun lalu berlompatan kegirangan dari satu pohon ke pohon yang lain. Mungkin maksudnya ucapan selamat datang bagi para tamu.
bekantan









Kaget "disapa" satwa berhidung mancung terhadap siapa saja yang mendekati habitat bekantan (Nasalis larvatus) itulah, pulau seluas 85 hektar itu dinamai Pulau Kaget. Dan Menteri Pertanian selanjutnya memberi status sebagai Cagar Alam Pulau Kaget (CAPK) sejak tahun 1976 guna melindungi warik (monyet Belanda-sebutan populer masyarakat setempat terhadap bekantan) beserta habitatnya.

Agropolitan Terantang
Sesuai potensi yang dimiliki, arah pembangunan Kabupaten Barito Kuala (Batola), tak lepas dari pengembangan sektor pertanian, tanpa mengesampingkan sektor pendukung, yaitu pendidikan, kesehatan,perkebunan, kehutanan, peternakan dan sektor lainnya.
Batola memang tak memiliki kekayaan berupa pertambangan. Kekuatan perekonomian warganya, justru bertumpu pada hasil pertanian.
Kawasan agropolitan dipusatkan di daerah pengairan Terantang dan Belawang, diikuti pengembangan beberapa sentra produksi.
Kawasan sentra produksi jeruk dan holtikultura berbasis padi, dipusatkan di Kecamatan Belawang, Barambai, Cerbon, Mandastana, Jejangkit dan Marabahan. Sedangkan kawasan pengembangan sapi potong dan kambing berbasis padi dan palawija, di kerahkan di Kecamatan Wanaraya dan Barambai. Selain itu ditetapkan pula kawasan sentra kelapa rakyat di Kecamatan Tamban, Mekarsari dan Alalak.
Berikutnya, sentra perikanan dan kelautan di Kecamatan Tabunganen.
Di sektor perikanan dan kelautan, Batola berhasil membudidayakan udang galah sebagai komoditas unggulan.

Agro Sungai Kambat
Pemkab Batola menjadikan kawasan Wisata Agro Sungai Kambat di Desa Sungai Kambat, Kecamatan Cerbon sebagai pusat wisata agro di Kalsel. Salah satu alasannya, di Sungai Kambat terdapat Balai Kasa (balai benih induk) tanaman hortikultura.
Dengan pembangunan sarana dan prasarana wisata agro, Aflus berharap banyak turis mancanegara dan turis lokal datang ke kawasan Wisata Agro Sungai Kambat. Dengan demikian, harga bibit dan buah yang dapat dipetik langsung dikebun oleh turis makin mahal. Selain itu, pemda juga akan membantu pemasaran hasil bibit dan buah-buahan yang ada.
Masyarakat juga dapat menikmati buah jeruk "Siam Banjar" yang rasa sudah terkenal manis sambil menikmati ikan bakar atau goreng yang segar.

Pulau Kembang
"Pulau Kembang" adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah administratif kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang terletak di sebelah barat Kota Banjarmasin. Jarak ± 2 km dari Kota Banjarmasin dapat ditempuh selama ± 10 -15 menit dengan menggunakan klotok.






Pulau Kembang ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 dengan luas 60 Ha.Hutan wisata yang terletak di tengah Sungai Barito yang dihuni ratusan kera jinak berbuntut panjang.





Pulau Kembang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kembang juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.

Asal Mula Pulau Kembang
Selain pengunjung yang ingin melihat warik-warik, ada pula pengunjung yang sengaja ke Pulau Kambang karena mempunyai niat atau nazar tertentu. Di pulau ini terdapat altar yang digunakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu sebagai tempat meletakkan kambang untuk dipersembahkan kepada “penjaga” Pulau Kambang. Altar tersebut dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih. Jika permohonan mereka dikabulkan, biasanya mereka melepaskan seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas sebagai tanda atau ucapan terima kasih kepada “penjaga” Pulau Kambang. Kenapa Pulau Kambang dijadikan sebagai tempat berziarah? Lalu, bagaimana dengan keberadaan warik-warik tersebut? Ternyata, Pulau Kambang sebagai tempat berziarah dan keberadaan warik-warik tersebut memang memiliki cerita tersendiri di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan cerita Pulau Kambang.
Konon, pada zaman dahulu kala, di Muara Sungai Barito berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kuin. Letaknya yang strategis menjadikan kerajaan tersebut sangat ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negeri. Selain letaknya yang strategis, kerajaan ini mempunyai seorang patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa. Namanya Datu Pujung. Ia merupakan andalan dan benteng pertahanan Kerajaan Kuin untuk menghalau segala ancaman yang datang dari luar.
Suatu hari, sebuah jung besar berasal dari negeri Cina berlabuh di Sungai Barito. Meskipun di dalam jung itu terlihat kesibukan yang luar biasa, tidak seorang penduduk negeri yang mengetahui apa sebenarnya yang mereka kerjakan dalam jung itu. Penduduk negeri juga tidak tahu maksud kedatangan mereka. Layaknya tamu, semestinya mereka mengirim utusan menghadap kepada penguasa negeri. Lama ditunggu, tak seorang pun yang keluar dari jung itu untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Sikap yang demikian itu membuat penguasa negeri menjadi lebih berhati-hati. Seluruh pengawal pelabuhan dipersiapkan untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.
Keesokan harinya, sebuah perahu yang sarat serdadu berseragam dan bersenjata lengkap merapat di tepian sungai. Seorang di antaranya melompat ke darat sambil menambatkan seutas tali di kayu ulin yang sengaja dijadikan titian. “Wahai, anak negeri! Sebelum pertumpahan darah terjadi, kalian semua disarankan untuk menyerah. Jika tidak, negeri ini akan kami musnahkan. Siapapun yang berani melawan akan kami bunuh, dan yang tidak melawan kami jadikan sebagai budak tawanan!” ujar seorang utusan. Datu Pujung menjawab ancaman itu dengan kata-kata yang halus, “Musuh bagi kami tidak dicari. Bila datang, pantang bagi kami untuk menghindarinya.” Lalu, Datu Pujung balik bertanya, “Apakah kalian mampu mengalahkan kami?” Ucapan Datu Pujung membuat utusan itu geram. “Hai, orang tua! Berani sekali kamu berkata begitu. Apakah kamu minta bukti keperkasaan kami?” balas utusan itu. “Ya, begitulah,” jawab Datu Pujung dengan penuh wibawa.
“Hai, prajurit! Kepung dan tangkap mereka!” perintah sang Kepala Utusan. Namun, sebelum serdadu-serdadu tersebut bergerak, Datu Pujung melompat ke arah sang Kepala Utusan dan menorehkan sebilah pisau ke leher orang yang mengancam tadi. “Tidak bijaksana. Sama sekali tidak bijaksana. Sama dengan tidak bijaksananya pisauku ini. Ia akan menoreh dan membuat lehermu berlubang bila anak buahmu meneruskan langkahnya,” gertak Datu Pujung sambil menggores-goreskan pisaunya di leher sang Kepala Utusan.
Melihat keselamatan pemimpinnya terancam, para serdadu mengurungkan niatnya. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun. Datu Pujung mundur selangkah. Sambil berbalik ia menawarkan sebuah taruhan. “Hai, Kepala Utusan! Di antara kita tidak perlu ada pertumpahan darah jika tawaranku ini kamu terima secara kesatria!” ujar Datu Pujung.
“Apa itu?” balas si Kepala Utusan penasaran. “Tariklah pohon ulin yang kalian jadikan titian itu sampai ke sini. Dengan senjata yang kalian miliki, penggal pohon itu menjadi dua potong. Jika kalian sanggup melakukannya, seluruh daerah ini akan menjadi milik kalian. Tapi sebaliknya, jika tidak mampu, dengan penuh hormat kami persilahkan kalian meninggalkan daerah ini sebelum kami berubah pikiran,” ancam Datu Pujung sambil menunjuk tebangan pohon ulin sebesar drum yang panjangnya tidak kurang dari sembilan depa.
“Tawaranmu kami terima, orang tua!” sambut Kepala Utusan dengan jumawa. “Kalau begitu. Bersiaplah untuk menarik kayu ulin itu,” ujar Datu Pujung. Mendengar ujaran itu, si Kepala Utusan terdiam. Sepertinya ia mulai ragu pada kemampuannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengangkat kayu sebesar drum dan panjang itu. Datu Pujung sudah tidak sabar menunggu si Kepala Utusan melaksanakan kesanggupannya. “Tunggu apalagi, Kepala Utusan?” desak Datu Pujung. Perlahan-lahan si Kepala Utusan mencoba untuk mengangkat pohon ulin itu, namun tidak bergerak sedikit pun. Melihat ketidakmampuan komandannya, seluruh anggota pasukan ikut membantu menarik tebangan pohon ulin. Tapi, usaha mereka tetap saja sia-sia. Jangankan pohon ulin itu bergeser, bergerak pun tidak. Kemudian senjata mereka mereka tebaskan ke batang tersebut, tetapi jangankan pohon itu terbelah, tebasan mereka membekas pun tidak padanya.
Datu Pujung hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sambil mengawasi gerak-gerik lawannya, ia pun segera mendekati pohon itu. Dengan sebelah tangannya, ia menarik kayu ulin itu. Sebilah parang bungkulnya yang terhunus kemudian menebas kayu ulin itu hingga terpotong menjadi dua. Salah satu potongan sengaja ia lemparkan ke arah seluruh pasukan tersebut. Mereka pun lari terbirit-birit ke arah perahu. “Tunggu pembalasan kami sebentar lagi!” ujar mereka mengumbar ancaman. Perahu mereka dayung dengan sekuat tenaga menuju ke jung di tengah sungai.
Datu Pujung tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan potongan kayu ulin yang lain, Datu Pujung meluncur ke sungai mengejar mereka. Dalam kejar-kejaran tersebut, Datu Pujung berhasil mendahului mereka tiba di atas jung. Pasukan naik di bagian depan jung, sedangkan Datu Pujung naik di buritan. “Kalian semua memang tidak bisa diberi hati!”, seru Datu Pujung penuh amarah. Ia mengambil pisau kecil dari balik bajunya, lalu mencungkil lambung jung itu. Dalam sekejap, air pun menggenangi jung. Sebuah hentakan kaki Datu Pujung membuat perahu bocor. Air memenuhi seluruh jung hingga tenggelam. Seluruh pasukan dan isi jung pun ikut tenggelam.
Sejak itu, endapan lumpur dan batang-batang kayu yang hanyut di Sungai Barito selanjutnya menimbun jung itu hingga membentuk delta atau pulau.

Asal Mula Warik (kera) di Pulau Kembang
Bagaimana pula dengan Warik (kera) yang banyak di pulau kambang itu? Ternyata memang memiliki cerita tersendiri dan menjadikan pulau ini memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Dalam ceriteranya disebutkan salah satu keturunan raja di daerah Kuin tidak dikaruniai anak. Menurut ramalan ahli nujum kalau ingin punya anak harus berkunjung ke Pulau Kambang dengan mengadakan upacara badudus (mandi-mandi). Ramalan dan nasihat ahli nujum ini dipenuhi oleh kerabat kerajaan. Beberapa waktu setelah mengadakan upacara di Pulau Kambang itu, ternyata isteri dari keturunan raja dimaksud hamil. Begitu gembira dan bahagianya keluarga raja dengan kehadiran anak yang dinanti-nantikan, maka raja yang berkuasa memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang merusak atau mengganggunya.
Petugas kerajaan yang mendapat perintah menjaga pulau ini membawa dua ekor warik besar, jantan dan betina yang diberi nama si Anggur. Konon menurut ceritanya setelah sekian lama petugas kerajaan ini menghilang secara gaib, tak diketahui kemana perginya. Sedangkan warik yang ditinggalkannya beranak pinak dan menjadi penghuni pulau kambang. Para orang tua dahulu ketika mengunjungi pulang kambang masih bisa melihat si Anggur yang memang berbeda dari warik biasa.
Keberadaan warik-warik ini telah menjadikan pulau kambang semakin menarik untuk dikunjungi. Berdasarkan hasil pengamatan yang pernah dilakukan oleh mereka yang perhatian terhadap keberadaan warik di pulau kambang ini diketahui ada dua kumpulan kera yang keluar dari persembunyiannya secara bergantian. Rombongan warik pertama yang keluar sekitar pukul 05.00 s.d. l3.00 dan setelah itu disambung oleh kumpulan warik sip kedua yang berada di tengah pengunjung pulau kambang. Kalau rombongan sip pertama tidak menaati ketentuan dengan pengertian melewati batas waktu operasional, maka ia akan diburu oleh rombongan warik lainnya. Tepatnya waktu itu mungkin hanya sesama warik yang tahu.
Begitulah asal muasal pulau Kambang beserta warik penghuninya. Tentang kebenarannya terpulang kepada Yang Maha Esa. Bahwa Pulau Kambang dan warik itu memang nyata dikelilingi sungai sekitarnya, tak perlu mempersoalkan keberadaannya. Tapi jangan lupa mengunjungi sebagai tempat wisata. 

WISATA BUATAN

Jembatan Barito
Adalah obyek wisata yang jaraknya ± 15 km dari Kota Banjarmasin dapat dicapai dengan jalan darat ataupun sungai. Waktu tempuh ± 45 menit dengan menggunakan transportasi air (perahu kelotok) dari Pelabuhan Kuin menuju kearah hulu melintasi ujung Pulau Kembang, Pasar Terapung, Pulau Alalak, dan Pulau Muara Anjir.  







jembatan barito

















Jembatan Rumpiang
Jembatan Rumpiang adalah jembatan yamg membentang di atas sungai Barito, kota Marabahan, kabupaten Barito Kuala. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 April 2008. Dengan hadirnya jembatan tersebut akan memperlancar arus lalu lintas dari Kota Marabahan menuju Banjarmasin dan sebaliknya yang sebelumnya harus menggunakan kapal feri untuk menyeberangi Sungai Barito.













Jembatan Rumpiang sendiri memiliki total panjang bentang 753 meter dengan bentang utama sepanjang 200 meter menggunakan konstruksi pelengkung rangka baja. Pembangunan Jembatan Rumpiang dimulai sejak akhir tahun 2003, menggunakan dana baik dari APBN maupun APBD Kabupaten Barito Kuala dan Pemprov Kalimantan Selatan sebesar Rp174,5 miliar.

Vihara Cina Pulau Kembang
Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi " penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu dan juga sebagai salah satu tempat ziarah orang Tionghoa. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul.








Di pulau ini terdapat sebuah Vihara Cina yang sudah sangat tua dan banyak dikunjungi keluarga Cina untuk beribadah. Umumnya para pengunjung datang pada hari Minggu dan Vihara ini dijaga oleh sekumpulan kera berekor panjang yang banyak mendapatkan makanan dari pengunjung seperti kacang, pisang dan telur.
Cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan waktu ke waktu. Sehingga mereka yang berasal dari keturunan Cinapun banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan penghormatan terhadap jasad yang berkubur di situ. Jadilah pulau ini sebagai tempat penyampaian doa nadzar, terutama bagi mereka yang merasa memiliki ikatan batin atas keberadaan pulau itu. Dahulu setiap orang yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kambang (bunga), dan karena berlangsung sepanjang waktu terjadilah tumpukan kambang yang sangat banyak. Mereka yang melintasi pulau itu selalu melihat dan menyaksikan tumpukan kambang yang begitu banyak. Oleh karena selalu menarik perhatian bagi mereka yang melintasi tempat ini dan menjadi penanda, maka untuk menyebutnya diberi nama Pulau Kambang.
Lama kelamaan nama pulau kambang semakin dikenal dan ramai dikunjungi orang dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengkeramatkannya atau sekadar ingin tahu keberadaan pulau kambang yang telah melegenda itu. Sekarang pun masih ditemui adanya kunjungan dari mereka yang punya hajat tertentu dan berbaur dengan para pengunjung atau para wisatawan lainnya setelah mengunjungi pasar terapung.

WISATA RELIGIUS

Makam Syekh Abdussamad
Makam Syekh Abdussamad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kelampayan, dari pihak ibu, ibu beliau adalah orang Dayak Bekumpai asli yang dinikahi oleh anak syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bernama Mufti Jamaluddin.
Syekh Abdussamad inilah yang berperan besar islamisasi Dayak Bakumpai.
Salah satu ulama keturunan Datu Kalampaian Syekh H Muhammad Abdusamad bin Al-Mufti H Jamaludin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Cucu Datu Kalampaian ini lebih banyak berjuang menyebarkan Islam di pesisir Sungai Barito.
H Muhammad Abdussamad, lahir 24 Zulkaidah 1237 hijriah atau 1822 masehi dari seorang ibu bernama Samayah binti Sumandi di Kampung bakumpai atau Kampung Tengah Marabahan.
‘Buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, begitu kira-kira pribahasa yang pantas bagi keturunan Syekh Arsyad Al-Banjari seperti Syakh Muhammad Abdussamad. Riwayat hidupnya pun hampir sama dengan kehidupan syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari seperti menuntut ilmu ke Mekkah.
Menginjak dewasa, Syekh Muhammad Abdusamad belajar ilmu agama dengan ayah yang juga terkenal sebagai sebagai ulama dan beberapa temannya di Martapura. Karena dianggap cukup mempelajari ilmu agama, Abdusasamad dipulangkan ke Bakumpai (Marabahan) untuk menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Tak lama setelah kembali ke kampung halaman, Muhammad Abdusamad kawin dengan seorang wanita bernama Siti Adawiyah binti Buris. Dari hasil perkawinan, dikarunia empat anak yaitu Zainal Abidin, Abdul Razak, Abu Thalhah dan Siti Aisyah.
Seperti juga kekeknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Muhammad Abdusamad haus akan ilmu agama. Karenanya selain mengajar ilmu agama, Muhammad Abdusamad berniaga untuk mengumulkan uang agar dapat menuntut ilmu ke Mekkah disertai anaknya Abdul Razak.
Syekh Abdulsamad belajar dan menimba ilmu, baik syariat maupun hakikat seperti dengan guru Allamah Syekh Khatib Sambas. Dalam ilmu hakekat, Muhammad Abdusamad belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman Al-Zuhdi An-Naqsyabandy dan belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman bin Muhammad Sumbawa.
Syekh Muhammad Abdusamad bermukim di Mekkah hanya sekitar delapan tahun, karena guru-gurunya menyuruh untuk kembali ke kampung halaman guna menyebarkan agama. Sebelum pulang, Syekh Muhammad Abdusamad sempat diuji keponakan yang terlebih dulu menimba ilmu di Mekkah H Jamaludin bin H Abdula Hamid Qusyasyi.
Karena ketinggian ilmu tarekatnya, Syekh Muhammad Abdusamad sempat hilang saat shalat. Atas ketinggian ilmu tarekatnya itu, keponakannya yang tadinya melarang untuk pulang ke kampung halaman, akhir mempersilakannya.
Sekembali di kampung halaman, Syekh Muhammad Abdusamad mulai membuka pengajian dan ramai dikunjungi para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Untuk menampung para penuntut ilmu, Syekh Muhammad Abdusamad membangun sebuah langgar di depan rumah dan membangun balai yang saat ini menjadi kubah almarhum di marabahan.
Dalam kegiatan dakwahnya, Syekh Muhammad Abdusamad selalu melalukan perjalanan ke pesisir Sungai Barito sampai ke udik-udik anak sungai untuk mendakwahkan Islam. Tak heran, banyak suku Dayak pedalaman yang memeluk agama Islam. Genap berusia 80 tahun, Syekh Muhammad Abdusamad meninggal dunia tepat 13 Safar 1317 H.

Makam Datu Gusti Aminin
Gusti Aminin adalah Putera Suryanapati bin Jaya Diwangsa. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun apabila dihitung tahun wafatnya sekitar 1745 masehi, maka saat meninggal diperkirakan usianya tidak kurang dari 100 tahun. Artinya, sekitar tahun 1645-an Gusti Aminin lahir.
Bersama Datu Khayan dan Datu Kapitan, Datu Aminin memimpin masyarakat Pulau Alalak dan Berangas menyerang kapal-kapal Belanda. Sejumlah pertempuran di perairan Sungai Barito pun sudah sering diikutinya. Beliau terkenal sakti, bahkan tembakan musuh tak bisa bersarang di tubuhnya.
Dikisahkan, sekitar abad XVIII terjadi pertempuran hebat di Muara Mantuil Banjarmasin. Karena persenjataan dan kekuatan musuh lebih banyak, Datu Aminin memerintahkan mundur. Namun, karena Datu Kapitan tidak mau mundur dan terus maju, Datu Kapitan pun akhirnya gugur.
Melihat Datu Kapitan tewas bersimbah darah, Gusti Aminin mengamuk dengan mandau di tangan. Pihak musuh banyak yang tewas akibat serangan Gusti Aminin yang membabi-buta tersebut. Sementara peluru yang dimuntahkan Belanda, tak satu pun mampu menembus tubuhnya. Serangan Gusti Aminin ini juga menewaskan seluruh isi kapal Belanda termasuk kapten kapal.
Namun, tidak lama setelah kejadian itu, Gusti Aminin jatuh sakit. Sejumlah peluruh yang tidak berhasil menembus tubuhnya ternyata membuat luka dalam. Gusti Aminin pun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sekitar tahun 1745. Datu Aminin sendiri sebelumnya juga dimakamkan di Desa Berangas. Namun pada tahun 1977, oleh cucu beliau bernama Muhammad Yusuf dipindah ke Pulau Sugara. Usia Muhammad Yusuf sendiri saat pemindahan makam tersebut dikabarkan sudah berusia 165 tahun.

Datuk Khayan - Pejuang Sekaligus Ulama Alalak
Datuk Khayyan adalah bukan nama asli Syekh Abdurrahman Siddik. Nama itu digunakan untuk menghindari sweeping serdadu Belanda. Kemurkaan tentara Belanda terhadap Datuk Khayan, karena ulama besar Alalak ini merupakan sosok pejuang yang senang membela kebenaran.
Lelaki asal Banten ini dikisahkan pernah "madam" (merantau) ke sejumlah daerah. Kalbar, Kalteng, sampai menetap di Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.
Di Kalbar, Datuk Khayan diberi gelar Sayid Abdurrahman Assegeaf Al Bukhayyan. Di kecamatan itulah (sekitar abad ke-17, Red) tengah terjadi pertempuran pejuang pribumi dengan Belanda di perairan Sungai Barito.
Datuk Khayan yang melihat perjuangan rakyat, turut membantu. Dia tidak rela menyaksikan tentara Belanda menguasai Sungai Barito. Karena keberaniannya melawan Belanda di perairan Sungai Barito lah, Datuk Khayan mendapat gelar Darrun Khayyan. Menurut bahasa Dayak, Darrun berarti Panglima. Sedangkan Khayyan adalah nama sub suku Dayak.
Selain berjuang, Datuk Khayan juga dikenal sebagai ulama Tasauf yang mempunyai banyak murid. Datu Khayyan mempunyai 3 istri. Isteri pertama bernama Zamrud asal Martapura. Dari perkawinan dengan Zamrud, ia dikaruniai 5 anak. Sedang dari isteri kedua, Syarifah Radiah asal Nagara HSS, Datuk Khayan dikaruniai 3 anak. Dari isteri ketiga Siti Sajanah, belum didapat data berapa jumlah keturunan.
Pada 1850, Datuk Khayan meninggal dunia dalam usia 150 tahun. Atau tepatnya 10 Rabiulawal, 153 tahun yang lalu. Ia dimakamkan di kediaman Alalak yang belakangan ramai dikunjungi orang.

Read more ...

Obyek Wisata Yang Ada Di Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara

Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan ibukota Amuntai memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
Kota Amuntai, Ibukotanya Kabupaten Hulu Sungai Utara diapit dua sungai yaitu sungai Tabalong dan Balangan. Untuk wisata kota, wisatawan dapat mengunjungi Masjid Raya Amuntai, Pantai Amuntai atau melongok Taman Kota Junjung Buih, berkunjung ke Monumen Perjuangan/melihat Monumen Itik Alabio yang menghiasi kota.

WISATA SEJARAH DAN BUDAYA

Candi Agung
Candi Agung Amuntai yang menjadi salah satu obyek wisata paling favorit bagi masyarakat Amuntai. Obyek ini terletak di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah.
Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.

Lomba Renang Kerbau Rawa
Menyaksikan lomba renang unik yaitu lomba renang Kerbau Rawa yang menjadi atraksi yang menarik. Perlombaan kerbau rawa itu persis seperti perlombaan atau atraksi karapan sapi di Madura, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa.






Kerbau Rawa atau biasa disebut Kerbau Kalang yang hidupnya lebuh banyak di air. Untuk menarik kunjungan wisatawan maka dilakukan terobosan dengan membuat lomba renang kerbau rawa.  






Lomba kerbau rawa tersebut, biasanya diselanggarakan pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, di lokasi yang sudah disediakan di kawasan tersebut, sehingga bagi turis mudah melihat atraksi lomba kerbau rawa itu.
Tetapi, bukan hanya atraksi lomba kerbau rawa yang menjadi daya pikat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara ke daerah itu, yang menarik mereka jusru menyaksikan usaha peternakan kerbau itu yang dinilai rada unik. Berdasarkan catatan, kerbau rawa (Bubalus carabanensis) yang pula disebut sebagai kerbau (hadangan) kalang, karena kehidupan kerbau-kerbau ini berada di atas kalang di atas rawa.







Kalang terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun di tengah rawa untuk berteduhnya ternak besar ini, setelah berenang ke sana-kemari seharian di air dalam rawa untuk mencari makan.











Sebuah kalang yang dibangun para peternak masyarakat Danau Panggang ini bisanya mampu menampung antara puluhan hingga ratusan ekor kerbau.
Karena kekhasan yang dimiliki oleh keadaan alamnya sebagai area genangan rawa serta keunikan penggembalaan ternak kerbau rawa yang dimiliki oleh daerah ini, di desa Bararawa kecamatan Danau Panggang dibangun stadion khusus sebagai arena lomba renang kerbau rawa. Lomba renang ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan sebagai alternatif wisata di daerah.

Amuntai Jual Kerajinan
Tempat wisata pasar kerajinan dan sentra industri meubel yang berlangsung subuh Kamis merupakan kegiatan transaksi hasil-hasil kerajinan para pengrajin yang ada di Hulu Sungai Utara. Pada kegiatan pasar subuh ini banyak pedagang perantara yang melakukan transaksi dan membawa hasil-hasil kerajinan ini keluar daerah/pulau. Matahari belum lagi terbit. Namun, ratusan pengrajin sudah berduyun-duyun menuju jalan depan Rumah Sakit Pambalah Batung Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Mereka kemudian menjejer barang bawaannya di tepi jalan dengan rapi seperti ada yang mengatur.
Mungkin fenomena itu hanya ada di Amuntai. Sebuah "pameran on the road" yang diselenggarakan rakyat kecil yang berprofesi sebagai perajin. Mereka datang dari segala penjuru, mulai dari darat hingga hulu sungai, tanpa ada yang memberi komando.
Barang bawaan mereka beraneka macam, mulai dari yang benar-benar tradisional hingga yang modern. Mulai dari desain kerajinan yang khas desa hingga sudah tersentuh "desain kota" yang biasanya diperuntukkan bagi ekspor.
Dari "kubu perajin tradisional", berdatanganlah barang- barang kerajinan fungsional khas desa, seperti alat tangkap ikan tradisional lukah dan jambeh, nyiru, tanggui (caping khas banjar), lanjung (tas khas dayak), dan takitan (bakul untuk panen).
Kerajinan tikar, topi, kipas, dan anyaman lainnya sudah menjadi pemandangan dominan di pasar yang hanya ada setiap Kamis itu. Semua barang itu langsung berasal dari perajin utama yang keluar dari desa-desa sekitar Amuntai, sekitar 250 kilometer dari Banjarmasin.
"Kubu perajin modernis" membawa kerajinan yang pernah berjaya sebagai primadona ekspor pada tahun 1980-an. Di antaranya didominasi oleh kerajinan berbahan baku rotan, seperti lampit, kotak tisu dari rotan, kursi malas dari rotan, sketsel pintu dari rotan, dan beraneka jenis anyaman rotan lainnya.
"Pokoknya semua jenis anyaman ada di sini dan jika belum ada, bisa dibuatkan. Barangnya seperti apa, silakan ditunjukkan ke kami, pasti kami bisa membuatkannya berdasarkan gambar itu," kata Mastur, perajin dari Palimbangan, Kecamatan Amuntai Utara.
Soal harga? Di pasar itu dikenal sebagai pasar murah meriah. Sebuah topi bundar dari anyaman purun, misalnya, hanya dilepas pengrajin dengan harga Rp 1.000. Jika mengambil banyak, misalnya satu kodi, pedagang melepasnya dengan harga Rp 18.000 per kodi.
Sebuah kursi malas berpenampilan mewah yang terbuat dari rotan hanya ditawarkan Rp 75.000. Tikar dengan motif tradisional yang langka dengan ukuran 1,5 m x 2 m di pasar itu hanya dijual Rp 10.000.
Berbagai bentuk tas dan bakul yang terbuat dari anyaman tradisional rotan di pasar itu hanya ditawarkan antara Rp 15.000 sampai Rp 50.000. Para pedagang mengklaim anyaman mereka sudah sering dikirim ke Bali dan dari Bali diekspor ke mancanegara.
KAMIS pagi merupakan hari pasar khusus untuk barang kerajinan dari para pengrajin. Walaupun dinamakan pasar, tidak ada pengelola atau pemungut retribusi di kawasan itu. Bahkan, parkir kendaraan pun tidak ada yang memungut.
Kabupaten Hulu Sungai Utara setelah berpisah dengan kabupaten baru Balangan kini memang praktis tak memiliki sumber daya alam. Dengan lepasnya Balangan yang kaya batu bara, Amuntai kini benar-benar bergantung pada keterampilan sumber daya manusia, khususnya di bidang kerajinan.
Perajin dari Palimbangan, Kecamatan Amuntai Utara, Yusnah, mengatakan, dirinya dan juga hampir semua warga desanya sudah puluhan tahun benar-benar bergantung pada kerajinan tangan. Pasang surut desa tersebut juga bergantung pada nasib kerajinan di mata konsumen.
Pada dekade 1980-an, misalnya, di kalangan para pengrajin dianggap sebagai tonggak kejayaan kerajinan Amuntai karena kerajinan dari berbagai desa itu berhasil menembus ekspor ke berbagai negara Asia, terutama Jepang. Masa kejayaan itu berangsur-angsur surut memasuki dekade 1990-an.
Walaupun demikian, para perajin yang melayani pasar lokal hingga kini terus bertahan dan lambat laun memasuki tahun 2004 ini kerajinan Amuntai bangkit kembali. Desa-desa yang dulu terpuruk kini kembali bangkit dan mereka kembali menganyam.
Selain dengan tetap menguasai pasar ekspor melalui kota-kota di luar Jawa, semisal Surabaya dan Bali, kini mereka sudah berhasil ekspansi pasar ke Taiwan dan Korea. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan pasar ke Jepang, terutama untuk kerajinan lampit.
Kerajinan memang sudah mendarah daging. Bahkan, di Hulu Sungai Utara dimungkinkan tidak ada yang mau menganggur karena semua memiliki keterampilan menganyam atau beternak.
Setiap hari di desa-desa wisata itu mereka menganyam dengan puncak kegiatannya terjadi pada Senin hingga Rabu. Hari-hari itu masyarakat desa sedang mempersiapkan barang kerajinan untuk dibawa ke Pasar Kerajinan Kamis Subuh di Amuntai.

Monumen Kota Bebek Alabio
Kota Amuntai juga dikenal sebagai Kota Agrowisata Bebek Alabio. Oleh karena itu, di tengah kota terdapat sebuah patung bebek sebagai landmark kota ini. Namanya Monumen Bebek Alabio. 







Menurut beberapa orang yang pernah merasakan masakan Bebek Alabio, rasanya tiada tara.

Pasar Itik Alabio
RABU dini hari, Pasar Itik Alabio di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, sudah menggeliat. Lalu lintas mulai padat. Sepeda onthel, sepeda motor, mobil angkutan desa, mobil pikap, truk, gerobak, perahu, dan manusia lalu lalang membawa tiga jenis barang dagangan: itik, telur itik, dan pakan itik.
Nama itik alabio yang tersohor di seluruh Nusantara karena produktivitas telurnya itu memang berasal dari nama pasar itik di tepi sungai itu. Bagi masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU), itik alabio adalah penyangga ekonomi rakyat.
Sekurangnya 14.000 keluarga bergantung kepada rantai bisnis 1,2 juta ekor itik. Beternak itik bagi sebagian orang HSU adalah seni turun-temurun. Keahlian itu sulit diajarkan kepada orang lain karena sebagian mengandalkan ketajaman insting dan kepekaan perasaan semata. Untuk menyeleksi telur yang akan ditetaskan, peternak tidak perlu "meneropongnya", cukup meraba dan merasakan getaran permukaan telur. Untuk membedakan jenis kelamin anak itik, peternak hanya mendengarkan suaranya. "Kalau kwak-kwak pasti jantan, kalau kwik-kwik berarti betina," kata Saiman yang dijuluki "doktor" itik karena keahliannya menangguh (membedakan jantan-betina).

Itik Alabio Desa Mamar
Pada kecamatan Amuntai Selatan yakni di desa Mamar sering mendapat kunjungan khususnya bagi mereka yang berkepentingan dengan kegiatan pengembangan dan perdagangan hasil-hasil ternak itik. 
Bagi kabupaten Hulu Sungai Utara yang memiliki ternak itik yang khas daerah yakni itik Alabio, maka adanya sentra ternak itik Alabio di desa Mamar ini menjadi trade mark yang dikenal oleh daerah lainnya.
Titian Panjang Desa Pasar Senin
Titian panjang dan wisata memancing yang terdapat di desa Pasar Senin merupakan titian yang dibangun untuk menghubungkan desa Mawar Sari dengan jalan utama agar dapat menggerakkan roda perekonomiannya serta membuka isolasi akibat sulitnya sarana transportasi ke desa ini sebelumnya. Karena bentuknya yang memanjang sampai puluhan kilometer serta melalui wilayah genangan rawa yang merupakan tempat hidup ikan-ikan perairan rawa, maka daerah ini ramai didatangi khususnya bagi mereka yang gemar memancing.

Kerajinan Sulaman Bordir Desa Teluk Betung
Kerajinan sulaman bordir yang turun-temurun di desa Teluk Betung kecamatan Sungai Pandan menjadi ciri khas daerah ini yang sering dikunjungi.

Lapangan Golf Air Tawar Indah
Di kecamatan Amuntai Utara ini yakni di desa Tayur terdapat lapangan golf Air Tawar Indah yang dibangun oleh pemerintah daerah sebagai tempat rekreasi dan olahraga yang sering dikunjungi khususnya yang memiliki kegemaran golf. 

WISATA RELIGIUS

Masjid Jami Sungai Banar
Masjid Jami Sungai Banar terletak di tepi Sungai Banar, sekitar 3 km dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tepatnya, di perbatasan Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung (sebelumnya masuk Desa Ilir Masjid).  
Masjid pertama di Amuntai ini berdiri pada tahun 1804 M (1218 H). Terdokumentasi dalam catatan pahatan pada bedug yang masih dimanfaatkan.
Dikisahkan, sejumlah warga Amuntai yang sedang berguru kepada Waliyullah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812M) di Martapura, menerima saran dari Syekh agar dibangun sebuah masjid di wilayah Amuntai. Kebetulan saat itu memang belum ada masjid. Selain itu Sang Wali juga memberikan sebuah Kitab Suci Al Qur’an tulisan tangan.

Peristiwa Aneh
Bak gayung bersambut, saran itupun disambut hangat warga Amuntai. Secara bersama, masyarakat mempersiapkan pembangunan masjid, seperti batu-batu, kayu, sirap,dll. Hingga kini, bahan baku masjid seperti kayu ulin, tiang, balok, papan dan sirap masih dapat disaksikan di sekitar masjid. Lokasi pertama yang dipilih sekitar 500 meter dari lokasi masjid yang sekarang.
Keanehan terjadi menjelang pemasangan tiang masjid (batajak tiang-bahasa Banjar). Mendadak masyarakat terkejut melihat sejumlah tiang besar yang terbuat dari kayu ulin itu hilang dari tempat pembuatannya. Setelah dilakukan pencarian, tiang-tiang itu ditemukan di tepi sungai di lokasi yang sekarang. Ketika itu, sungainya belum ada namanya.
Tentu saja kegaduhan muncul mengenai siapa yang memindahkan tiang-tiang yang memiliki bobot beberapa ton itu. Untuk mengangkat satu tiang saja dibutuhkan puluhan orang, apalagi lebih dari satu tiang. Padahal malam sebelumnya, masyarakat masih melihat tiang-tiang tersebut.
Keanehan itu pada akhirnya dipandang sebagai sebuah isyarat gaib bahwa lokasi masjid haruslah di tempat tiang-tiang itu berada sekarang. Maka dimulailah pembangunan masjid tersebut. Di kemudian hari tiang-tiang masjid tersebut ada yang mengeramatkan.
Bangunan asli masjid berukuran 25 x 20 meter. Berbentuk mirip Rumah Adat Banjar (panggung), memakai tiang dan bertingkat. Bahan-bahan rangka, lantai dan dinding papan dari kayu ulin dengan bagian atap dari sirap yang tinggi. Ketika itu belum dibuat menara.
Sedangkan mimbar khotbah merupakan wakaf pribadi H. Mahmud yang ukirannya dikerjakan 2 orang ahli ukir pada masa itu, yaitu Buha dan Thahir. Mimbar itu terbuat dari kayu ulin, berukuran 3,8 m x 1 m dengan total tinggi 4,5 meter terdiri dari badan 2 meter dan menara 2,5 meter. Usai masjid dibangun, terjadi lagi peristiwa aneh.

Pria misterius
Ketika itu masyarakat bersyukur menyaksikan jerih payahnya rampung. Merekapun bermusyawarah menentukan nama terbaik buat masjidnya itu. Tetapi belum ada keputusan yang diambil.
Tiba-tiba datanglah sebuah perahu yang merapat di tepi sungai dekat masjid. Penumpang perahu yang tampak seperti pedagang itupun turun dan meminta izin masyarakat untuk menunaikan shalat. Karena kebetulan bertepatan tibanya dengan waktu shalat. Tentu saja masyarakat merasa senang, karena orang itu merupakan jamaah shalat yang pertama dari daerah lain.
Setelah shalat, orang itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tetapi masyarakat terkejut melihat sebuah kantong berisi uang (kadut duit-bahasa Banjar) tertinggal di tepi sungai dekat perahu tadi bersandar. Merekapun sepakat untuk menyimpannya kalau-kalau orang itu kembali. Apalagi setelah diingatnya orang itu berperilaku baik dan alim.
Benar saja, beberapa hari kemudian orang itu datang lagi. Masyarakat pun kembali bergembira melihat si pemilik kantong berisi uang yang cukup banyak itu. Mereka bukan saja menyerahkan hak orang itu, melainkan juga menjamunya makan.
Pada waktu itulah, orang yang tidak diketahui jatidirinya itu berkata, “Urang-urang sini banar-banar kadada nang culasnya (orang-orang di sini semuanya jujur, tidak ada yang culas atau curang-demikian terjemahan daribahasa Banjar)”.
Kemudian orang itu bertanya seputar nama sungai tempat perahunya ditambat dan juga nama masjid yang baru dibangun itu. Masyarakat serentak menggelengkan kepalanya. Baik sungai atau masjid memang belum ada namanya.
Orang itupun tersenyum sambil berkata,” Bagaimana kalau sungai itu diberi nama Sungai Banar dan masjidnya diberi nama Masigit (masjid) Sungai Banar?”
Serentak masyarakat bertakbir memuji kebesaran Allah SWT. Kebuntuan masyarakat menamai masjid pun terpecahkan. Setelah itu, pria itupun pergi. Tetapi siapakah pria misterius itu? Tidak seorangpun mengetahui asal usulnya.
Hingga kini masyarakat meyakini pria misterius itu tergolong Waliyullah. Sebagai buktinya, pernah ada upaya penggantian nama masjid telah berulangkali dilakukan, tetapi masyarakat tetap tidak bisa menerima. Upaya penggantian pernah terjadi tahun 1990. Nama masjid diganti menjadi Masjid Baiturrahman. Nama baru ini bahkan disahkan dalam sertifikat di Kantor Pertanahan Hulu Sungai Utara. Pada tahun 2000, muncul nama baru: Masjid Istiqomah. Nama inipun tercantum dalam Skep Kakanwil Depag Kalsel tentang Penetapan Nomor Induk Masjid, dengan nomor urut: 1764090/61916.
Tetapi nama-nama baru itu sangat tidak populer dan hampir tidak pernah disebut masyarakat, kecuali nama Masjid Sungai Banar. Belakangan nama masjid ditambah menjadi Masjid Jami Sungai Banar untuk menunjukkan sebagai masjid besar dan bersejarah

Tokoh-tokoh ulama
Berdirinya Masjid Jami Sungai Banar menyemarakkan kehidupan beragama masyarakat Amuntai dan sekitarnya. Bahkan ada yang datang dari wilayah lain untuk belajar dan menuntut ilmu. Keberadaannya dapat dikatakan sebagai pusat pengembangan Agama Islam waktu itu.
Tercatat beberapa ulama besar yang pernah mengisi taklimnya di masjid ini, seperti: Tuan Guru H. Abdul Qodir (lahir thn.1830M ), Tuan Guru H. Ahmad bin H. Abdul Qadir (lahir 1860-1944), Tuan Guru H. Ahmad Khatib bin H.Muhammad Arif (1866-1956), Tuan Guru H, Abdul Hamid bin H. Matsaleh (1870-1940), Tuan Guru H.Abdul Hamid bin H. Jamaluddin (1896-1951, beliau wafat di Makkah), dll.
Para ulama besar itu umumnya juga pernah menimba ilmu di Makkah. Sebagai contoh, Tuan Guru H. Ahmad sempat mukim di Makkah selama 40 tahun. Salah seorang murid beliau yang bernama Tuan Guru H.Abdul Rasyid (1884-1934) dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Pakapuran Amuntai. Murid beliau yang juga terkenal adalah H.Ahmad Hasan Qadi dan H.M. Jannawi Amuntai, H.Jamaluddin dari Negara, H.M. Nawawi, H.Mukeri dari Birayang dan H. Zamzam dari Barabai.
Begitupula dengan Tuan Guru H.Abdul Hamid yang pernah mengajar di Makkah dengan murid antara lain K.H Abdul Karim Al Banjari Kandangan dan K.H Mahfudz Amin (pendiri Ponpes Ibnu Amin Pamangkih Barabai).

Pasukan Gaib
Bagi masyarakat Amuntai, para ulama besar itu selain dikenal dengan kedalaman ilmunya, juga karena karomahnya. Cerita seputar keramat para ulama itu masih dipercaya hingga kini. Diantaranya cerita karomah Tuan Guru H. Abdul Hamid yang tubuhnya terangkat seperti terbang saat sedang itikaf di bulan Ramadhan.
Terlebih lagi, saat perang kemerdekaan masjid ini pernah dijadikan semacam markas untuk mengatur strategi perang. Ketika itu, sekelompok orang yang dijuluki Pasukan Gaib dikenal memiliki ilmu daya linuwih yang mampu mengalahkan musuh berkekuatan besar. Penjajah bahkan tidak pernah bisa mengenali atau mendeteksi kehadiran mereka. Sepintas mereka layaknya santri biasa, mengaji Kitab Kuning. Padahal mereka juga digembleng ilmu-ilmu kadigjayaan agar siap menjadi Pasukan Gaib.
Dikisahkan, suatu ketika Pasukan Gaib yang dipimpin Mat’ali bersama wakilnya Itar dan sekitar 70 orang berniat menyerang markas Belanda. Sebelum berangkat mereka mengambil kain putih yang biasa dipakai Khatib Jumat. Mereka lalu menyobek kain itu menjadi dua. Sebuah diikatkan did kepala, yang lain diikatkan di pinggang. Sedangkan tongkat Khatib dijadikan tiang bendera pasukan sekaligus juga tombak.
Mereka pun menyerbu sarang musuh dan memperoleh kemenangan mutlak tanpa ada korban dipihak Pasukan Gaib. Sebagian musuh kabur ke daerah lain. Kisah ini sangat terkenal, terutama menyangkut kekuatan gaib yang dimiliki pasukan itu. Tetapi sayangnya, Misteri tidak berhasil melacak jejak ilmu kadigjayaan Pasukan Gaib (Ghost Soldiers).

Tiang perdamaian
Dalam pada itu, Misteri mendengar pula beberapa kisah lain yang tergolong unik seputar masjid yang juga merupakan cagar budaya ini.
Pada zaman dulu, apabila terjadi pertikaian antar suku, maka mereka melakukan pembicaraan damai di masjid ini. Sebagaimana diungkapkan Ruben, warga suku Dayak Kenyah yang tinggal di wilayah Muara Kate, Tabalong.
Menurutnya, cerita seputar karomah masjid itu didapatnya dari orang-orang tua dulu. Dia menceritakan, pernah ada pertikaan warga. Maka diantara mereka yang bertikai itu kemudian mengambil inisiatif untuk mengadakan perjanjian damai di Masjid Jami. Padahal lokasi pertikaan itu sendiri jauh dari wilayah Amuntai. Terkadang yang bertikai pun berlainan keyakinan dengan ulama.
Ketika itu ulama-ulama besar memiliki kharisma yang diyakini mampu mengakhiri pertikaian. Konon mereka yang bertikai itu melakukan perdamaian di dekat salah satu tiang masjid. Hingga kini, ada sebagian orang yang mengeramatkan tiang perdamaian tersebut.
Misteri terkejut juga mendengarnya. Tapi begitulah sebuah kisah tutur turun-temurun yang masih hidup. Uniknya lagi, tiang yang dikeramatkan itupun tidak semua orang mengetahuinya.

Naik haji ke Masjid Jami Sungai Banar
Keyakinan sebagian orang terhadap karomah masjid ini, setidaknya dibuktikan sejumlah mahasiswa IAIN Banjarmasin yang melakukan penelitian seputar maksud tujuan orang berkunjung atau berziarah ke Masjid Jami. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada juga dari Negara tetangga.
Banyak diantara peziarah yang datang bermaksud melakukan tirakat untuk suatu hajat tertentu. Pada saat tirakat mereka biasanya juga bernazar, apabila hajatnya terkabul maka akan datang lagi untuk menunaikan nazarnya. Lalu hajat apa yang paling sering dilakukan?
Kisah ini Misteri dapatkan dari pria asal Martapura. Kebetulan pria ini seorang spiritualis yang biasa mendengar kisah-kisah legenda atau kegaiban di wilayah Kalsel.
Menurutnya, ada kepercayaan di masyarakat bahwa kalau mau pergi haji, datanglah ke Masjid Jami. Maksudnya adalah, apabila seseorang berkeinginan beribadah haji ke Makkah, tetapi kekurangan atau bahkan tidak ada dana yang mencukupi, maka mereka datang ke Masjid Jami untuk melakukan tirakat.
Di masjid itu, mereka lantas beribadah memohon sambil menangis kepada Tuhan agar keinginannya dapat terlaksana. Mereka juga berpuasa dan berzikir. Syukurlah, banyak diantara mereka yang terkabul hajatnya.
Tetapi dia mengingatkan, meski kisah ini tergolong aneh, tidak berarti orang-orang yang berkeinginan kuat pergi haji tapi kurang modal lantas datang ke Masjid Jami.
“Masjid itu kan rumah Tuhan. Maka sering-seringlah beribadah di masjid. Jangan hanya Jumat atau Maghrib saja,” demikian katanya.
Menurutnya, apabila seseorang sudah terbiasa beribadah di masjid (yang nota bene adalah ‘Rumah Tuhan’), Allah SWT pasti akan meridhoi hambaNya untuk beribadah di Masjidil Haram.”
Jadi sering-seringlah ibadah di masjid berjamaah dengan sesama Muslim lainnya. Insya Allah, mereka yang ikhlas melakukan akan berkesempatan ibadah di dekat Rumah Tuhan (Ka’Bah) di Mekkah.
Namun tidak semua yang tirakat di Masjid Jami berhajat naik haji. Ada diantara mereka yang ingin mendapat jodoh, usahanya laris, dll. Semua itu merupakan hal wajar dan sah-sah saja. Beribadah di masjid secara berjamaah terasa afdhol dan lebih cepat terkabulnya hajat daripada ibadah di rumah secara sendiri-sendiri.
Selain tempat ibadah juga pernah dipergunakan para pejuang kemerdekaan RI untuk menyusun strategi melawan penjajah Belanda, masjid ini sudah masuk dalam daftar cagarbudaya dan banyak di kunjungi orang untuk berziarah.

Mesjid Raya
Masjid Raya Amuntai terletak di Kota Amuntai, Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).Masjid megah berpintu gerbang tinggi ini didominasi warna cokelat. Beda dengan kebanyakan masjid pada umumnya yang bercat putih.








Keunikan lainnya, terlihat dari atap masjid ini yang menggunakan atap rumah adat Kalimantan Selatan. Masjid ini dikeililingi taman yang luas dan hijau. Kondisi itu membuatnya semakin enak dipandang mata. Tak berlebihan, kalau masjid ini menjadi kebanggaan warga Kota Amuntai.

Makam Datu Syekh Sayid Sulaiman
Di kecamatan Amuntai Utara tepatnya di desa Pakacangan, adanya makam Datu Syekh Sayid Sulaiman yang merupakan makam keramat merupakan lokasi yang sering mendapat kunjungan.

Read more ...

2012/06/25

Obyek Wisata Yang Ada Di Paringin Kabupaten Balangan

Kabupaten Balangan dengan ibukota Paringin memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.


WISATA ALAM

Gunung Batu Sumsum dan Goa Hantanung di kecamatan Awayan
Gunung Batu Hantanung di Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan, cukup populer sebagai tujuan rekreasi bagi warga setempat. Wisata alam ini menawarkan keindahan khas gunung batu lengkap dengan stalaktit dan stalaknitnya.
Terletak di Desa Sumsum sekitar 6 km dari ibukota kecamatan, selain Gunung Batu Hantanung, sekitar 100 meter terdapat sebuah gunung yang bisa dinikmati dari atas jembatan. Di bawahnya mengalir sungai dengan air bening berjeram. Panorama alam sekitar gunung ini nampak asri, indah dan sejuk.
Namun area yang dijadikan objek wisata adalah kawasan Gunung Batu Hantanung. Meskipun area ini sudah dilengkapi beberapa fasilitas seperti tempat istirahat pengunjung dan taman yang dibuat depan gunung itu, namun kondisinya sudah tak terawat dan dibiarkan rusak.
Plang identitas kawasan wisata, yang masih bertuliskan kabupaten Hulu Sungai Utara itupun dibiarkan ditumbuhi rumput liar.
Gunung Batu Hantanung adalah sebuah gunung batu kapur berongga-rongga, dengan ketinggian sekitar 100 meter. Di bagian puncaknya ditumbuhi berbagai jenis tanaman, yang sebagian menjulur ke bawah seperti tirai.
Di depan gunung ini, pengunjung dapat menikmati hawa sejuk yang berhembus dari rongga-rongga gunung batu itu. Dari stalaktit (batu yang menggantung) air tak pernah berhenti menetes. Dari taman sekitar gunung, pengunjung juga bisa menikmati beningnya air yang mengalir di bawahnya.
Desa Sumsum Kecamatan Awayan sebagai tujuan wisata sangat mudah dijangkau. Dari ibukota kabupaten ke Awayan sekitar 13 km bisa ditempuh dengan angkutan colt pikap atau mikrolet ke Kecamatan Awayan. Sebagian angkutan ada yang langsung ke desa itu dengan tarif Rp5.000.
Jarak dari Awayan ke lokasi wisata sekitar 6km, bisa juga ditempuh dengan menggunakan jasa ojek. Sesuai geografi wilayah menuju lokasi yang merupakan pegunungan berbatu, perjalanan didominasi pemandangan alam pegunungan, dengan jalan beraspal yang berkelok-kelok.
Menurut warga setempat, selain gunung batu di wilayah bagian atas juga terdapat hamparan lumut luas yang hidup di bebatuan, hingga warga setempat menyebutnya permadani lumut. "Tapi kalau mau ke sana harus jalan kaki dan menginap," tutur warga.
Objek wisata ini juga dekat dengan perumahan penduduk. Menurut warga setempat, dulu wisata alam ini sangat diminati wisatawan lokal maupun luar daerah. Sekarang seiring rusaknya sejumlah fasilitas dan kotornya tempat ini, pengunjung hanya berdatangan setiap hari libur dan hari-hari besar seperti lebaran dan tahun baru.

Gua Berangin Gunung Belawan
Gua Berangin Gunung Belawan di kecamatan Halong, terowongan yang unik, yang menghubungkan ke dasar gunung dengan udara yang sejuk

WISATA RELIGIUS

Makam Datuk Kandang Haji di desa Teluk Bayur kecamatan Juai.
Salah satu tradisi warga Balangan pada saat lebaran adalah berziarah ke makam Datuk Kandang Haji yang terdapat di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai.
Datu Kandang Haji adalah salah seorang dari dua orang datu (satunya lagi Datu Sanggul dibagian Selatan Banjarmasin, Tatakan Rantau dan sekitarnya) yang aktif berdakwah, mengajar masyarakat mengaji Alquran dan menghidupkan pelaksanaan shalat Jumat di bagian Utara Banjarmasin (Paringin dan sekitarnya). Beliau wafat dengan meninggalkan Alquran tulisan tangan, sepasang terompah, dan tongkat untuk berkhutbah. Makam beliau terletak di samping masjid yang didirikannya di Paringin (Kabupaten Balangan sekarang)”.
Datu Kandang Haji hidup sezaman dengan Datu Sanggul (Rantau) yang wafat pada tahun 1772 M, karena itu, besar kemungkinan Datu Kandang Haji hidup di era tahun 1760-an dan tahun-tahun sebelumnya.
Datu Kandang Haji aktif menyebarkan Islam di Paringin dan sekitarnya, beliau menyebarkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Paringin, mengajar mereka mengaji atau membaca Alquran, membimbing kegiatan keagamaan masyarakat (terutama khutbah Jumat), menyalin Alquran, serta memotivasi masyarakat untuk melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, beliau juga menjadi pelopor bagi masyarakat untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat. Shalat Jumat sendiri pada waktu itu tidak hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga diwajibkan oleh negara, karena itu jika ada yang tidak shalat Jumat, maka mereka akan dikenakan denda.
Datu Kandang Haji adalah ulama yang bertanggung jawab terhadap penyebaran dan pengajaran Islam kepada masyarakat, khususnya wilayah bagian Utara Banjarmasin, yakni Paringin dan sekitarnya ketika itu, karena untuk dakwah di Banjarmasin, martapura, dan sekitarnya sudah diisi oleh ulama kerajaan sedangkan bagian Selatan yakni Tatakan Rantau dan sekitarnya sudah diisi oleh Datu Sanggul.
Pelaksanaan kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh Datu Kandang Haji pada waktu itu tentu saja masih dalam bentuknya yang sederhana, namun walau demikian diyakini bahwa dakwah beliau cukup berhasil, sehingga masyarakat Paringin termasuk kelompok masyarakat yang sudah lama mengenal agama Islam.

WISATA SEJARAH DAN BUDAYA

Benteng Tundakan
Dari sekian banyak peninggalan sejarah perjuangan Pangeran Antasari, salah satunya adalah benteng Tundakan. Benteng bersejarah ini berada di kawasan terpencil, tepatnya di Desa Tundakan Kecamatan Awayan yang terletak sekitar 55 kilometer dari pusat Kota Amuntai. Benteng Tundakan merupakan salah satu kawasan yang digunakan pejuang sekitar 1858 hingga 1861.
Selain itu, bentuk benteng Tundakan tidak sebagaimana yang dibayangkan orang. Tetuha masyarakat di daerah biasa menyebut nama benteng itu dengan istilah "Benteng Tundakan".
Bagi penduduk di daerah ini, cerita tentang keberadaan benteng Tundakan sudah tidak asing lagi. Karena masih banyak tetuha masyarakat di daerah ini yang mengetahui tentang sejarah keberadaan benteng Tundakan tersebut.
Konon, benteng Tundakan merupakan salah kawasan yang digunakan para pejuang kemerdekaan. Bahkan benteng Tundakan pernah dijadikan kawasan pertahanan oleh tokoh pejuang Kalsel Pangeran Antasari. Benteng tersebut sempat digunakan oleh para pejuang kemerdekaan sekitar tahun 1858 hingga 1861. Pangeran Antasari bersama pejuang kemerdekaan lainnya seperti Temanggung Jalil pernah menempati benteng tersebut.
Pada waktu itu, Pangeran Antasari merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang dicari-cari tentara Belanda. Dan untuk menghindari dari adanya upaya penangkapan yang dilakukan tentara Belanda, Pangeran Antasari kemudian bersembunyi di kawasan Benteng Tundakan.
Keberadaan Benteng Tundakan sempat diketahui tentara Belanda. Hingga akhirnya, benteng tersebut diserang ratusan tentara Belanda sekitar. Dalam penyerangan tersebut, Temanggung Jalil gugur, jasatnya dimakamkan tidak jauh dari kawasan Benteng Tundakan.
Untuk mengenang tokoh pejuang kemerdekaan tersebut, Pemkab HSU mengharumkan nama Temanggung Jalil menjadi salah satu nama ruas jalan yang ada di kota Amuntai.
Kalau dilihat sepintas lalu, Benteng Tundakan tidak berbentuk sebagaimana benteng pertahanan untuk perang. Karena benteng tersebut terletak di suatu kawasan pegunungan. Selain itu, bentuk benteng Tundakan hanyalah berupa sebuah gua di bebatuan yang berlubang. Namun di dalam goa itulah, para pejuang berusaha untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan penjajah kolonial Belanda.
Bukti sejarah perjuangan di benteng Tundakan tersebut hingga kini masih tetap dikenang. Walau saat ini yang terlihat hanyalah sebuah bentuk goa yang ditumbuhi rumput liar, namun apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan tentunya akan selalu tetap dikenang.

WISATA ADAT

Pesona budaya Pesta Panen Raya
Upaya mempertahankan metode pertanian tradisional dan bibit lokal ternyata masih ada, kendati dilakukan secara terbatas. Itulah yang tercermin dari penyelenggaraan pesta adat syukuran panen padi Aruh Baharin yang dilaksanakan di Desa Kapul, Kecamatan Halang, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Selama tujuh hari, Masyarakat Adat Dayak Desa Kapul, menyelenggarakan perayaan Aruh Baharin yang diselenggarakan setiap tiga atau lima tahun sekali.
Perayaan ini bertujuan untuk melestarikan budaya pertanian dan bercocok tanam padi organik yang dilakukan oleh masyarakat adat Dayak sejak ratusan tahun yang silam. Seperti telah diketahui bahwa secara turun-temurun masyarakat Dayak mengembangkan pertanian organik, khususnya padi, tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Pertanian organik yang dianggap mencerminkan budaya tradisional dan keterbelakangan, saat ini justru dinilai sebagai sistem pertanian yang sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan dan lingkungan hidup.
"Oleh karena itu, masyarakat Dayak di Kalimantan yang memiliki adat dan tradisi harus tetap dibela, tidak boleh dihilangkan. Pembelaan tidak dengan kekerasan," kata Panglima Komando Pertahanan Adat Daya Kalimantan, Lukas Kapung".
"Bagi masyarakat Dayak Kalimantan, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final, sehingga hak-hak masyarakat adat juga harus dihormati," tambahnya.
Namun kelemahan masyarakat adat selama ini umumnya tidak adanya perlindungan dari negara, sehingga mereka menjadi termarjinalisasi akibat persaingan dan penyingkiran. Perlindungan yang paling strategis adalah jika masyarakat adat diberdayakan dengan menyadarkan mereka tentang hak-hak yang mereka miliki. Dalam hal ini perayaan pesta adat Aruh Baharian merupakan salah satu usaha untuk menggugah para pihak yang peduli dengan masyarakat adat untuk memberi perhatian dan memberdayakan mereka.
Pesta adat tersebut dimeriahkan dengan tarian ritual yang diberi nama Batandik untuk mengekspresikan rasa bersyukur dan keagungan penguasa alam dengan mempersembahkan identitas kebudayaan dan kehidupan mereka berupa perahu naga dan rumah adat Dayak Balangan. Dua miniatur perahu dan rumah adat tersebut kemudian dihanyutkan ke Sungai Balangan. Selama tujuh hari tujuh malam masyarakat yang ikut dalam pesta adat tersebut dapat menikmati makanan khas adat Dayak Balangan dan memotong hewan kurban.

Aruh Adat Baharin
Lima balian (tokoh adat) yang memimpin upacara ritual terlihat berlari kecil sambil membunyikan gelang hiang (gelang terbuat dari tembaga kuningan) mengelilingi salah satu tempat pemujaan di balai depan rumah milik Ayi, warga Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Hampir semua warga Dayak setempat, bahkan warga dari beberapa kampung lainnya, hadir mengikuti ritual adat tua yang masih dilestarikan dan dipertahankan di kecamatan yang terletak sekitar 250 kilometer utara Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Mereka larut menyaksikan para balian itu saat bamamang (membaca mantra) memanggil para dewa dan leluhur.
Prosesi adat ini dikenal dengan Aruh Baharin, pesta syukuran yang dilakukan keluarga besar terdiri dari 25 keluarga tersebut karena hasil panen padi di pahumaan (perladangan) mereka berhasil dengan baik. Pesta yang berlangsung tujuh hari itu terasa sakral karena para balian yang seluruhnya delapan orang itu setiap malam menggelar prosesi ritual pemanggilan roh leluhur untuk ikut hadir dalam pesta tersebut dan menikmati sesaji yang dipersembahkan.
Prosesi berlangsung pada empat tempat pemujaan di balai yang dibangun sekitar 10 meter x 10 meter. Prosesi puncak dari ritual ini terjadi pada malam ketiga hingga keenam di mana para balian melakukan proses batandik (menari) mengelilingi tempat pemujaan. Para balian seperti kerasukan saat batandik terus berlangsung hingga larut malam dengan diiringi bunyi gamelan dan gong.
Sebelum prosesi itu berlangsung, ibu-ibu dan remaja wanita yang secara khas mengenakan tapih bahalai (kain batik) terlihat sibuk membersihkan beras, membuat ketupat, memasak sayur, serta memasak lemang yang menjadi pemandangan awal kesibukan mempersiapkan ritual ini.
Sementara para lelaki terlihat mengenakan sentara parang dan mandau di pinggang. Mereka bukan hendak berperang, tetapi itu harus dikenakan saat mereka mempersiapkan janur pemujaan, mengangkut kayu bakar, dan memasak nasi. Kesibukan memasak ini berlangsung setiap hari selama ritual berlangsung.
Sedangkan kegiatan proses Aruh Baharin, kata Narang, balian yang tinggal di Desa Kapul dipersiapkan oleh para balian. Prosesi tersebut berlangsung beberapa hari karena ada beberapa pemanggilan roh leluhur yang harus dilakukan sesuai jumlah tempat pemujaan.
Untuk ritual pembuka, jelasnya, prosesinya disebut Balai Tumarang di mana pemanggilan roh sejumlah raja, termasuk beberapa raja Jawa, yang pernah memiliki kekuasaan hingga ke daerah mereka.
Selanjutnya, melakukan ritual Sampan Dulang atau Kelong. Ritual ini memanggil leluhur Dayak, yakni Balian Jaya yang dikenal dengan sebutan Nini Uri. Berikutnya, Hyang Lembang, ini proses ritual terkait dengan raja- raja dari Kerajaan Banjar masa lampau.
Para balian itu kemudian juga melakukan ritual penghormatan Ritual Dewata, yakni mengisahkan kembali Datu Mangku Raksa Jaya bertapa sehingga mampu menembus alam dewa. Sedangkan menyangkut kejayaan para raja Dayak yang mampu memimpin sembilan benua atau pulau dilakukan dalam prosesi Hyang Dusun.
Pada ritual-ritual tersebut, prosesi yang paling ditunggu warga adalah penyembelihan kerbau. Kali ini ada 5 kerbau. Berbeda dengan permukiman Dayak lainnya yang biasa hewan utama kurban atau sesaji pada ritual adat adalah babi, di desa ini justru hadangan atau kerbau.
”Hadangan dipilih warga sini sudah sejak dulu karena bisa dinikmati siapa pun yang berbeda agama. Bahkan, di kampung ini juga tidak ada yang memelihara babi,” kata Yusdianto, warga Desa Kapul yang menjadi guru agama Buddha di Banjarmasin.
Namun, yang membedakan, warga dan anak-anak berebut mengambil sebagian darah hewan itu kemudian memoleskannya ke masing-masing badan mereka karena percaya bisa membawa keselamatan. Daging kerbau itu menjadi santapan utama dalam pesta padi tersebut.
”Baras hanyar (beras hasil panen) belum bisa dimakan sebelum dilakukan Aruh Baharin. Ibaratnya, pesta ini kami bayar zakat seperti dalam Islam,” kata Narang.
Sedangkan sebagian daging dimasukkan ke dalam miniatur kapal naga dan rumah adat serta beberapa ancak (tempat sesajian) yang diarak balian untuk disajikan kepada dewa dan leluhur.
Menjelang akhir ritual, para balian kembali memberkati semua sesaji yang isinya antara lain ayam, ikan bakar, bermacam kue, batang tanaman, lemang, dan telur. Ada juga penghitungan jumlah uang logam yang diberikan warga sebagai bentuk pembayaran ”pajak” kepada leluhur yang telah memberi mereka rezeki.
Selanjutnya, semua anggota keluarga yang menyelenggarakan ritual tersebut diminta meludahi beberapa batang tanaman yang diikat menjadi satu seraya dilakukan pemberkatan oleh para balian. Ritual ini merupakan simbol membuang segala yang buruk dan kesialan.
Akhirnya sesaji dihanyutkan di Sungai Balangan yang melewati kampung itu. Bagi masyarakat Dayak, ritual ini adalah ungkapan syukur dan harapan agar musim tanam berikut panen padi berhasil baik

Tarian Gintor dan Wadian | Balian terdapat di kecamatan Halong
Balian adalah sebutan upacara pengobatan pada Suku Dayak Balangan (bagian dari Suku Dayak Maanyan) di Kabupaten Balangan dan Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan. Suku Dayak Balangan memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.
Bagi masyarakat Suku Dayak, khususnya di wilayah pedalaman, komunikasi dengan roh leluhur menjadi salah satu ritual untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan ritual khusus yang bisa dilakukan oleh orang-orang khusus.
Keseimbangan itu akan tercapai manakala komunikasi dengan lingkungan, tidak terputus. Bahkan komunitas masyarakat Suku Dayak juga memercayai bahwa keseimbangan alam akan masih sangat terjaga ketika roh leluhur ikut menjaganya.
Kearifan Suku Dayak untuk menjaga lingkungan turun temurun sebenarnya menjadi bagian dari kehidupan yang sudah dibina sejak dahulu. Hanya, egoisme dan alasan untuk bertahan hidup menjadikan banyak sisi lingkungan harus dikalahkan.
Berbagai masalah pun timbul. Musibah serangan penyakit, malapetaka dan bencana alam pun terjadi. Tidak ada lagi penghormatan terhadap leluhur untuk ikut menjaga, karena ulah manusia yang tak lagi arif menjaga komunikasi.
Balian, dipercaya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Komunikasi itu bisa melalui tarian atau komunikasi verbal. Tari dipercaya menjadi media, dengan pukulan alat musik yang disajikan dapat menjadi penghubung untuk sebuah pola komunikasi.
Masyarakat Suku Dayak mengenal balian saat akan melakukan komunikasi dengan roh-roh leluhur. Biasanya saat berkaitan dengan ritual penyembuhan penyakit, ritual untuk membersihkan kampung dari berbagai kemungkinan petaka, atau berbagai keperluan lainnya.
Balian juga menjadi perantara hubungan antara pihak yang memerlukan bantuan untuk diobati atau keperluan lainnya dengan roh-roh leluhur yang dipanggil dalam kaitannya dengan ritual tersebut, sehingga keperluan untuk ritual itu bisa berjalan sesuai harapan.
Ritual yang dilakukan balian biasanya menggunakan media berupa tarian dan atau gerakan-gerakan serta bunyi-bunyian tetabuhan dan peralatan musik pengiring tarian yang dimainkan oleh para pemain musik dalam ritual tersebut.
Karena itu, ritual tersebut sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Suku Dayak di wilayah pedalaman. Lebih-lebih untuk tetap menjaga keseimbangan alam dan berbagai pola kehidupan yang berlangsung di dunia fana ini.
Balian juga menjadi bagian dari sebuah ritual dan bertindak sebagai pawang atau basir (perantara adat, Red) yang memiliki kemampuan untuk menjaga komunikasi dengan dunia leluhur sehingga keseimbangan dapat terus terjaga dan terbina langgeng.
Keseimbangan antara kehidupan fana dan dunia para leluhur akan dapat terjaga manakala dua dunia yang berlainan itu dapat saling menjaga keseimbangan. Sejauh ini, manusia menjaga alam dan ritual leluhur dan leluhur pun akan menjaga keseimbangan alam tempat manusia hidup.

Aruh Adat Mambatur
Warga Dayak Halong di Kabupaten Balangan menggelar acara adat untuk mengirim doa kepada roh para leluhurnya.
Perhelatan yang termasuk langka dan jarang digelar di Provinsi Kalimantan Selatan ini diberi nama adat Mambatur. 


 
Biasanya, warga Dayak mengantar roh leluhurnya dengan perantaraan hewan kerbau. Hewan berkaki empat ini dibunuh dengan cara ditombak.
Sepintas, acara ini serupa dengan acara adat Mambuntang atau Wara Nyalimbat di Tamiang Layang Kalteng.
Selain di Halong dayak Warukin, Tabalong ada juga upacara kematian disebut Mia atau Mambatur, yaitu membuat tanda kubur dari kayu ulin.
Ritual tersebut memiliki beberapa tingkatan, antara lain berdasarkan lamanya waktu dan pembiayaan.
Upacara menguburkan satu hari disebut ngatang, yaitu membuat kubur satu tingkat. Dalam kaitan ini, ada tradisi siwah pada hari ke-40 setelah kematian. Pembuatan batur satu tingkat ini disebut juga wara atau mambatur kecil.
Proses mambatur ada pula yang dijalankan selama lima hari disertai dengan pengorbanan kerbau dan pendirian balontang, yakni patung si warga yang meninggal. Prosesi itu biasanya dilaksanakan dengan mengundang semua warga.
Sebagai kelanjutan "mambatur" biasanya dilangsungkan mambuntang sebagai upacara terakhir. Kepala Adat Desa Warukin Rumbun mengatakan, aruh mambuntang yang sederhana disebut buntang pujamanta. Ritual ini hanya mengorbankan kambing, babi, dan ayam.
Untuk ritual yang lebih “bergengsi”, buntang pujamea diwarnai dengan pengorbanan kerbau. Perbedaan antara mambatur dan balontang adalah dari segi mantra dan balian atau rohaniwan Kaharingan yang melaksanakannya.
Perbedaan lain, patung balontang diarahkan ke barat sebagai simbol arah alam kematian, sedangkan pada mambuntang patung diarahkan ke timur sebagai simbol kehidupan.
Read more ...